Senin, 02 Januari 2017

Benteng Van Der Wijck

Menutup liburan Sebelumnya masih di catatan saya ingin ngucapin Selamat tahun baru 2017, Di pembukaan Tahun ini Catatan diawali dari kunjungan Ke Benteng Van Der Wijck sebuah benteng tua di Gombong. Ya maksud hati ingin kilas balik kemasalalu sebelum membukan lembaran baru di 2017 ini. Apa yang sudah kita lakukan di tahun tahun sebelumnya.


mengingat sejarah berarti mengingat juga sebuah kisah yang kebetulan di awal tahun ini saya menyempatkan diri berkunjung ketempat ini, sebuah benteng peninggalan Belanda Yang dulunya bernama Fort General Cochius, yang terjadi pada masa perang Diponegoro, yang terjadi tahun 1825-1830.

Dan sebelum perang itu berlansung benteng ini  didirikan pada tahun 1818 yang di prakarsai oleh Jendral Van den Bosh ini memiliki luas benteng sebesar ...berapaya saya lupa, inget tinginya saja sekitar 9.67m kemudian berganti nama dengan Benteng Van Der Wijck. Sempat di Gunakan Untuk Latihan Pasukan jepang Dan PETA.

Bagi Yang Belum Pernah ke sini ini lah penampakan bentengnya Dari Depan



1. Bentuk Arsitektural 

a. Luar Benteng
Dilihat dari bentuknya, Arsitektural dari Bentuk Bangunan  Benteng ini menurut saya ini sangat seperti layaknya bangunan tua jaman yang sudah 100 tahun lalu, Dengan Cirikhas bangunan belanda Yang Banyak lengkunganya di setiap lorong dindingnya, UNIK berbeda dengan bentuk benteng Pada Umumnya. Beberapa Asesoris tambahan Seperti Sebuah kendaraan Tempur LApis baja Berupa Tank dan Meriam  Yang Kabarnya Adalah Peninggalan Belanda.


Di belakang saya adalah penampakan bangunan tersebut, JIka Kita lihat dari seksama dan sangat dekat, bangunan  benteng ini hanya terbuat dari batu kali sebagai pondasi dan tumpukan batu bata merah yang di susun satu persatu mulai dari bawah dinding hingga atapnya

Tidak Ada Batu Batu Lain seperti marmer dan sejenisnya di benteng ini, Tapi uniknya bangunan ini dapat bertahan hingga saaat ini. Walau pun terlihat dengan batu bata Merah namun dinding nya sangat kokoh sekali, dan dapat di buktikan dengan memukul tembok bunyi pukulannyapun sangat berbeda padat dan berisi.

Diatas benteng terdapat Sebuah kereta yang dapat kita naiki untuk berkeliling mengelilingi benteng utuk melihat suasana di atas benteng.

Benteng bercat merah ini tertulis tahun 1818 ini berarti abad 18 benteng ini di bangun. seperti dijelaskan di atas saat itu pada masa 7 tahun sebelum perang Diponegoro Berlangsung nampak pula patung Diponegoro tertera di dekat barak.

Masuk Kedalamnya terdapat sebuah galeri Foto Saat Pemugaran Benteng ini berlangsung.

b. Dalam Benteng 

Terdapat empat buah gerbang, 3 lantai dalam Benteng ini, dimana di setiap lantai jika kita hintung satu persatu mulai dari lantai satu ada 16 ruangan berukuran 18 x 6,5 m. Ada 27 ruangan kecil dan 25 ruangan kecil semua bentuk lantai 1 memutar membentun segi delapan. Terdapat 72 jendela, 63 pintu penghubung, 8 tangga memutar keatasmenuju ke lantai dua

Lajut lagi di lantai dua. Dilapisi cat putih Dengan Hijau dimana  ada 84 jendela, 70 pintu penghubung dan empat undakan ke Dak layangnya bangunan tua Tempat ini Begitu Senyap Dan dingin di penuhi lorong lorong untuk menuju ruang ruang berikutnya

Lanjut kita naik keatas Dak, dimana Di dak terdapat kereta yang dapat kita naiki untuk berkeliling Benteng tidak usah jalan kaki. Dengan Menaiki tangga yang bentuknya memutar dan sangat curam serta lembap maklup suasanya habis di guyur hujan.

c Dari Atas Benteng

JIka kita lihat dari atas bentuk atap nya juga terbuat dari batu batu, yang di susun sama seperti dindingnya bersiku membentuk segi tiga layaknya sebuah atap rumah dan bentuknya pun terlihat kokoh dan tidak rapuh.




Keunikan yang lain adalah bangunan ini berbentun segi delapan, yang jika di telusuri saya baru mendengar bangunan dengan bentuk segi delapan jarang sekari bentuk bangunan segi delapan terutama bangunan TUa dimana pertama di Indonesia yaitu Benteng Van Der Wijck dan di Australia. Di tengah benteng terdapat lapangan luas. Yang di tengahnya berbentuk segi delapan.


Benteng Yang bertepatan dengan kompleks secata TNI ini berada di Jl. Sapta Marga, Desa Sedayu, Kecamatan Gombong,Kebumen. Dari balik didinding tembok pagarnya terdengar sayup sayup para tentara yang sedang berlatih sabil berlari menyuarakan yel yel, dan benteng ini pernah diambil alih tentara jepang, dan pernah pula menjadi sekolah KNIL pada tahun 1940. Dan Pelatihan Tentara PETA.

Berkunjung Ketempat ini saya sarankan jangan sendirian, karena yang saya alami adalah suasana yang sepi dan aura aura mistis yang membuat merinding serta lembab dan pengap saat berada di dalam benteng terutama saat menaiki tangga menuju atap benteng, jika Sendiri sangat Sunyi sekali, jika bisa ajak teman buat masuk kedalamnya.